Kelanjutan cerita nitip jual buku di Lapak Tukang Koran

Buku PNS Introvert & label harga 32.000
Dua minggu yang lalu saya nitip 3 buku ke pedagang koran belakang kantor. Hari ini baru dapet kabar klo bukunya baru laku satu hehehe, ketika saya tanya siapa yang beli Bapaknya sendiri tidak kenal siapa yang beli…namanya juga buku yang dipajang dipinggir jalan…jadi tiap orang yg lewat bebas untuk liat & beli.

Apa yang saya pelajari dari hal ini? Buku saya masih ada peluang untuk laku dipasaran? atau…buku saya tidak terlalu menarik sehingga masih ada sisa 2 yang belum laku?

Mungkin samplenya terlalu sedikit klo cuma 3 buku yang dijual & saya menjualnya hanya di 1 tempat & sebenarnya tidak lazim juga menjual buku genre true story di lapak tukang koran / majalah 😀

Disini saya jadi bisa mengerti peran pihak penerbit konvensional dalam menerbitkan sebuah buku, mereka mengeluarkan uang untuk menggaji editor, mencetak buku, mendistribusikan buku & mempromosikan buku. Untuk itulah mereka sangat selektif dalam memilih draft buku. Dan oleh karena itulah mereka hanya membagi royalty sekitar 10% karena mungkin sebagian keuntungan mereka dipakai untuk subsidi silang terhadap judul-judul buku yang gak laku dipasaran.

Saya menahan diri untuk mengeluarkan modal cetak buku 1.000 eksemplar karena takut bukunya gak laku & di retur…waktu display di toko buku itu hanya sekitar 3 bulan, jadi saya harus memastikan kalau buku saya sebelumnya telah dipromosikan dengan baik…

Setelah merasakan lebih dekat dengan tantangan :

  • Menulis buku
  • Mengedit buku sendiri
  • mengeluarkan modal untuk mencetak buku
  • promosi
  • retur buku

Apakah kedepannya lebih baik saya fokus ke poin menulisnya aja? meskipun hanya diberi royalty 10% …tapi terasa lebih nyaman kan? daripada harus mengurus semuanya sendiri…

 

3 thoughts on “Kelanjutan cerita nitip jual buku di Lapak Tukang Koran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*